SEBUAH CATATAN

Karena diri belum berhenti berjalan...

Bagi kami, bakau tidak sekedar menjadi tanaman penting penjaga ekosistem pantai. Bagi kami bakau lebih dari sekedar tanaman berakar gantung yang sengaja dibudidayakan untuk menjaga keseimbangan alam.

Di desa kecil kami yang terletak di pesisir pantai di Aceh Besar, bakau adalah satu dari sekian banyak pintu rezeki bagi sebagian masyarakatnya. Di akar-akarnya menetap spesies tiram yang setiap hari diambil untuk ditukar dengan rupiah. Bakau menghias tanggul-tanggul tambak yang di dalamnya hidup ratusan ekor udang, dan tempat berkembang biak bibit-bibit ikan bandeng.

Saat senja, bakau-bakau di desa kami akan berubah warna menjadi putih. Ya, putih. Karena bakau adalah juga rumah bagi ratusan bangau ketika malam. Bangau-bangau putih yang saat pagi dan siang terbang entah kemana mencari makan. Dan pulang untuk beristirahat di atas dahan-dahan bakau yang kokoh.

Begitulah, desa kami tak dapat dilepaskan dari pesona bangau dan pohon bakau. Saat tsunami melanda Aceh akhir 2004 silam, bakau-bakau itu tercabut hingga ke akar-akarnya. Hingga tak ada lagi penghalang angin laut yang kencang bertiup ke daratan. Bangau-bangau berkaki panjang pun entah kemana terbangnya. Mungkin sama seperti kami, mereka juga bersedih karena kehilangan tempat berteduh.

Atas inisiatif salah seorang warga desa, akhirnya warga desa kami menjadi pelopor penanaman kembali hutan bakau. Desa kami menjadi desa pertama yang menjalankan program itu. Bibit-bibit bakau yang terbawa air dikumpulkan, lalu disemai di tambak. Saat sudah mulai bertunas dan tumbuh, bakau-bakau itu ditanam rapi. Di tepi sungai dan di tambak. 

Warga begitu bersemangat. Jika ada bakau yang tidak tumbuh, mereka menggantinya dengan yang baru. Akhirnya usaha mereka membuahkan hasil. Bakau-bakau itu menghijau. Meski belum terlalu besar, namun harapan kehidupan telah ada. Masyarakat tak pernah menyerah.

Sekarang, hampir 8 tahun setelah tsunami melanda. Desa kami telah kembali hijau oleh bakau. Dan ternyata yang paling membuat saya bahagia adalah, saat senja tiba, bangau-bangau putih telah kembali. Beristirahat di atas dahan-dahan bakau yang belum terlalu dewasa. 

Mungkin tsunami telah menghancurkan rumah kami, memporak poranda kan desa kami. Namun Allah masih memberi kami harapan untuk hidup, semangat untuk bangkit lagi dan berbuat yang baik dan berguna bagi sesama penghuni bumi :)

6 months ago
  1. annidaibrahim posted this