SEBUAH CATATAN

Karena diri belum berhenti berjalan...

Jika Sumatera Barat punya cerita tentang Malin Kundang si anak durhaka, maka Aceh punya Amat Ramanyang. Ya, mungkin tak banyak yang tau tentang cerita rakyat yang satu ini. Namun bagi kami penduduk pesisir pantai Aceh Besar, Amat Ramanyang adalah cerita yang turun temurun kami dengar dari tetua kami. Adalah seorang anak yang biasa dipanggil Amat. Dia adalah yatim yang hidup berdua dengan ibunya. Di pesisir pantai di Krueng Raya, Aceh Besar. Ayahnya telah lama meninggal, sehingga hanya ibunya saja yang membesarkan Amat dengan penuh kasih sayang. Amat tumbuh menjadi seorang pemuda yang besar dan tinggi. Hingga orang-orang memanggilnya Amat Rayamanyang (dalam bahasa Aceh, besar disebut raya, dan tinggi disebut manyang). Karena terlalu panjang saat diucapkan, akhirnya orang kampung memanggilnya dengan nama Amat Ramanyang. Bertahun-tahun Amat dan Ibunya hidup dalam kemiskinan. Hingga suatu hari Amat berpikir untuk pergi merantau. Meski berat hati, sang Ibu akhirnya mengizinkan anaknya berangkat. Beliau berharap agar Amat mendapatkan banyak rezeki sehingga mereka tidak hidup dalam kesusahan lagi. Tibalah saatnya Amat akan berangkat. Ibunya membuatkan bekal kesukaan putra semata wayangnya, kuah on muröng (kuah bening daun kelor yang ditambah sedikit parutan kelapa dan cabe) serta separuh telur ayam rebus. Makanan itu dibungkus dengan daun pisang. Berangkatlah Amat ke perantauan dengan doa dan air mata Ibunya. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Amat Ramanyang tak pernah berkirim kabar apatah lagi pulang mengunjungi Ibu di Krueng Raya. Bertambah hari Ibu bertambah sepuh. Namun Amat nya tak kunjung pulang. Hingga suatu hari ada sebuah kapal milik saudagar yang bersandar di dermaga Krueng Raya. Dia tak lain adalah Amat Ramanyang, si yatim yang pergi merantau bertahun lalu. Kabar itu akhirnya sampai juga ke telinga ibunya. Dengan senang nya beliau menyiapkan makanan kesukaan anaknya. Kuah on murong dan telur rebus. Ibu akhirnya pergi ke dermaga, hendak bertemu putranya yang telah kaya raya dan membawa seorang istri yang cantik jelita. Namun saat tiba di dermaga, yang terjadi di luar harapan ibunya. Amat, putra yang sangat disayangnya tidak mengakui ibunya. Amat mengingkari kenyataan, bahwa wanita tua itu adalah ibu yang telah melahirkannya. Sang ibu begitu sedih. Bekal nasi berbungkus daun pisang pun jatuh berserakan. Ibu yang sudah tua, akhirnya berdoa agar Allah memperlihatkan kekuasaan Nya. Tak lama kemudian, langit berubah mendung. Hujan dan petir menyambar-nyambar. Tiba-tiba Amat dan kapalnya berubah menjadi batu. Sampai saat ini, batu Amat Ramanyang masih bisa kita lihat di laut Krueng Raya. Nenek saya bilang, dulu batu itu dekat ke daratan. Namun semakin lama makin menjauh ke tengah laut. Saat saya masih kecil dulu, setiap pergi ke Sabang, saya suka membuang pandangan ke arah batu Amat Ramanyang. Sayang, sejak pelabuhan Malahayati tak lagi dipakai sebagai pelabuhan penumpang, saya tak bisa lagi melakukan kebiasaan itu. Mungkin Amat Ramanyang dan Malin Kundang hanya legenda. Namun satu yang pasti, bakti anak adalah ridha orang tua. Dan ridha orang tua adalah juga ridha Allah.

6 months ago