Tetiba teringat almarhum kakek, saya memanggil beliau dengan sebutan Chik (di Aceh, ada banyak sebutan untuk kakek. Di antaranya Chik atau Abu Chik). Beliau bernama Ismail Husin. Lahir di tahun 1924 dari pasangan Teungku Husin dan Tjut Awan.
Chik lahir dengan bibir sumbing. Sampai meninggal, Chik tidak dioperasi. Karena setiap kali mau dioperasi, Chik akan sakit sehingga semua operasi gagal.
Saat muda, (seperti kebanyakan pemuda kampung kami) Chik juga mengayuh sepeda berpuluh-puluh kilometer. Membawa garam, yang merupakan hasil utama desa kami yang di pesisir, untuk dijual atau ditukar dengan bahan pangan lain di daerah dekat pegunungan.
Chik adalah seorang pensiunan Legiun Veteran. Chik mahir berbahasa Jepang. Beliau hanya sekolah di Sekolah Rakyat, tapi beliau tak pernah puas untuk mencari ilmu pengetahuan.
Aku ingat, setiap bulannya ketika mengambil gaji pensiunnya yang tak seberapa, Chik selalu membelikanku majalah Bobo. Sekali-kali, aku diajak menemani ke Bank, lalu saat pulang boleh mampir di pasar dan membeli sandal.
Chik yang mengajariku membaca di usia dini. Sehingga usia 4 tahun aku sudah pintar membaca dan menulis.
Setiap bulannya Chik juga membeli buku-buku Islami. Beliau membacanya untuk bahan yang disampaikan dalam Khutbah Jumat. Chik juga seorang Kepala Mukim yang memimpin 5 desa. Beliau juga diamanahkan sebagai ketua LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh) di mukim tersebut.
Chik selalu saja berpakaian rapi meski hanya duduk-duduk saja di rumah. Chik sangat teratur. Setiap pagi beliau minum kopi susu, lalu mandi dan shalat dhuha. Zikirnya panjang sekali, berlama-lama dengan Rabb.
Saat Chik makin tua, beliau kehilangan hampir seluruh pendengaran. Lalu kehilangan separuh ingatan masa tua nya. Beliau lupa hampir pada semua orang, hanya ingat orang-orang yang pernah hadir di masa muda, dan kebanyakan sudah berpulang.
Aku ingat, sebulan sebelum tsunami beliau akhirnya pergi untuk selamanya. Beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri. Chik pergi tanpa harus melihat dahsyatnya gelombang yang meluluh lantakkan Aceh yang sangat beliau cintai itu. Dan Chik pergi tanpa menyaksikan bahwa hanya tanah dan rumah nya lah yang luput dari terjangan gelombang dahsyat pagi itu. Tanahnya lah yang menolong puluhan warga desa hari itu.
Sudah delapan tahun. Chik, aku sudah dewasa. Masih suka membaca. Terima kasih segalanya :)
-
rifiaubiet likes this
-
rafikahasna said:
menyentuh sekali..jadi ingat ‘mbah kung’ aku yang dulu sering membelikan kartu pos buat dikirim-kirim :’),
-
annidaibrahim posted this




