Malam ini purnama lagi. Yang kesepuluh semenjak aku pergi meninggalkan tanahku. Kerinduan menyeruak memenuhi udara di sekitarku. Aku rindu Bunda, Ayah, semuanya. Dan pastinya, aku juga rindu pada Nek Tu. Aku rindu duduk di dekatnya. Memperhatikan tangan tuanya memegang rampagoe, membelah pinang dan meracik sirihnya. Lalu dia akan menumbuknya dalam lesung tua yang terbuat dari kayu dengan alu kecil dari besi.
Ah, Nek Tu. Seandainya semua orang tahu betapa istimewanya dirimu bagiku. Malam ini, Nek Tu. Seandainya saja aku sedang duduk di dekatmu. Pasti kau akan menceritakan hal-hal luar biasa padaku. Aku rindu padamu malam ini, Nek Tu…
***
Aku bergegas pulang dari tempat mengajiku. Kuletakkan mushafku dan kuganti pakaianku. Nek Tu pasti sedang menungguku di rumahnya. Di anak tangga paling atas di rumah Acehnya. Di depan pintu berpalang kayu dengan ukiran-ukiran indah yang tak mampu aku terjemahkan.
Dan benar saja, saat kakiku menginjak rumput pertama di halamanya, aku telah melihat Nek Tu dengan senyumnya. Nek Tu hari ini memakai baju hitam, sarung kotak-kotak dan kerudung yang menutup rambut putihnya.
“Assalamualaikum, Nek Tu.”
“Waalaikumsalam, tamong, Nyak.”
Dan setelah itu, Nek Tu akan menanyakan kabar Ayah, Bunda, dan adik-adikku. Lalu cerita-ceritapun dimulai. Tentang masa kecilnya, tentang orang tuanya, tentang perang, tentang apa saja. Terkadang, aku meminta agar Nek Tu memberiku kesempatan membelah pinang dengan rampagoenya.
“Nek Tu jeut keudroe, Nyak,”begitu jawabnya, “Nanti tanganmu luka.”
Tapi tak jarang Nek Tu memang mengizinkanku menumbuk sirihnya. Dan aku menyambutnya antusias. Setiap sorenya sebelum aku pulang darirumah Nek Tu, maka aku dan sepupuku akan membawakannya dua ember air bersih untuk wudhu’nya.
Aku pulang membawa cerita. Besok aku akan kembali meminta cerita yang lain. Dan aku tahu, Nek Tu tak akan bosan. Nek Tu pasti punya cerita yang lebih seru untuk besok, lusa, dan besoknya lagi. Aku tahu itu.
***
Namanya Tjut Manyak. Saat ini usianya pasti sudah mencapai seratus delapan tahun. Ya, aku tak berbohong tentang usia Nek Tu ku. Usia yang cukup panjang. Setidaknya Nek Tu telah pernah hidup di lebih dari tiga masa perang. Melihat berbagai peristiwa yang berlangsung di luasnya dunia.
Beruntunglah Nek Tu yang terlahir dari pasangan bangsawan masa itu. Sehingga Nek Tu kecil boleh bersekolah di sekolah Belanda. Nek Tu bersekolah meski perang melawan penjajah tiada hentinya. Hingga tiba saatnya tak ada anak perempuan yang boleh bersekolah lagi, Nek Tu telah menguasai baca tulis dalam huruf Latin.
Meski aku belum hadir saat itu, tapi aku yakin, Nek Tu dulunya pasti seorang wanita cantik. Aku masih dapat melihat gurat-gurat itu di wajah tuanya. Aku suka matanya. Mata wanita Aceh yang penuh dengan keberanian.
Keluarga Nek Tu begitu terhormatnya. Hingga tak ada lelaki yang berani melamarnya. Hingga suatu hari seorang pemuka agama bernama Teungku Husen datang melamar. Tapi bukan melamar Nek Tu. Melainkan melamar kakaknya yang bernama Tjut Awan.
Namun ternyata, jodoh Nek Tu sama dengan jodoh kakaknya. Karena setelah melahirkan dua putera, akhirnya kakaknyapun meninggal dan menikahlah Nek Tu dengan iparnya. Nek Tu merawat kedua anak kakaknya seperti anaknya sendiri. Nek Tu pun punya empat orang anak. Jadilah Nek Tu memiliki enam orang putera, dua puluh sembilan cucu dan aku adalah salah satu di antara puluhan cicitnya.
Siapapun, tak perlu meragukan Nek Tu-ku. Begitu adilnya, begitu sabarnya. Saat Nek Tu harus merawat tiga cucunya karna anaknya bercerai, atau saat menantunya meninggal. Nek Tu tak mengeluh. Ah, mungkin aku tak akan mampu. Bayangkan, Nek Tu dapat membagi satu telur untuk tujuh cucunya dengan ukuran yang sama.
***
“Nek Tu mau mati,” katanya.
Bagaimana aku tak terhenyak mendengarnya. Nek Tu mengatakan itu sambil menangis. Ya, Nek Tu menangis memohon kematian. Saat orang-orang berdoa agar Allah memberi umur panjang, maka Nek Tu dengan mudahnya meminta Allah mencabut nyawanya.
“Pakon, Nek Tu?” Tanyaku.
“Nek Tu sudah tua, Nyak. Kenapa bukan nyawa Nek Tu saja yang diambil. Kenapa Allah malah mengambil nyawa anak-anak dan cucu-cucu Nek Tu?”
“Bukankah berarti Allah masih sayang pada Nek Tu? Membiarkan Nek Tu hidup lebih lama di bumiNya?”
“Tidakkah kau berpikir, Nyak? Bagaimana jika dengan usia yang panjang itu Nek Tu malah akan menuai terlalu banyak dosa?”
Aku diam. Tak lagi tahu harus menjawab apa. Aku kira pikiran semacam itu hanya sesaat ada pada Nek Tu. Namun ternyata aku keliru. Justru Nek Tu semakin menjadi-jadi. Nek Tu menjadi sering menangis sendiri. Apa lagi setelah gelombang itu datang. Nek Tu tak lagi mau percaya pada siapapun. Nek Tu tak percaya kalau rumah Acehnya tak ada lagi. Rumah indah dengan ukiran dan pintu berpalang kayu.
“Bawa Nek Tu pulang ke rumah.”
“Nek, rumah Nenek tak ada lagi. Jadi Nenek tinggal di sini saja bersama kami,” salah seorang pamanku menenangkan.
“Hana mungken,” bantahnya, kalau rumah tak ada lagi, Nek Tu mau tinggal bersama kalian. Tapi tolong bawa rampagoe Nek Tu, dan semuanya. Bawa ke sini.”
Duh, Nek Tu. Dimana kami harus mencarinya? Di mana rampagoemu, di mana aku dapat menemukan puanmu, lesungmu, alumu? Bagaimana aku harus menjelaskannya, Nek Tu?
“Kenapa tak kalian biarkan saja Nek Tu mati dalam air itu?”
Dan hari-hari Nek Tu pun berpindah-pindah. Sebulan di sini, pulang kesana, kembali ke sini dan balik lagi ke sana. Begitu seterusnya. Karena Nek Tu tak pernah betah di manapun. Tidak di rumah anak-anaknya, bukan pula di rumah cucu-cucunya. Nek Tu hanya mau pulang ke rumah Acehnya. Tapi bagaimana bisa? Jangankan rumah, sepotong papanpun dari rumahnya tak bisa kami temui bekasnya.
Ditengah kesibukanku bersekolah, masih akan selalu kusempatkan diri menemuinya. Kadang Bunda membelikan sawo atau seikat sirih untuk kubawa. Dan selalu saja pedih yang kuterima kini, tiap kali aku berkunjung menemuinya. Bukan lagi cerita-cerita luar biasa yang aku dapat. Tapi Nek Tu menyambutku dengan berbagai pertanyaan.
“Soe gata, Nyak? Supo aneuk? Pat tinggai?”
Duh, Nek Tu membuatku menjadi teramat sedih. Bagaimana bisa Nek Tu kini tak lagi mengenalku? Dan pertemuan dengan Nek Tu pun akan dihiasi dengan tangisan dan rintihan Nek Tu. Apalagi kalau bukan tentang dirinya yang hingga hari ini belum meninggal. Bagaimana cicitmu ini bisa menjawab?
Nek Tu terus saja begitu, bahkan semakin menjadi-jadi. Tiap malam Nek Tu menangis, memanggil-manggil nama anak dan cucu-cucunya yang telah meninggal. Lalu memanggil siapa saja yang melewati kamarnya. Menyuruh mereka membenturkan kepalanya agar segera mati. Nek Tu memang tak pernah berubah. Tapi usia senjanya telah mengantarkannya kembali ke masa-masa kanak-kanaknya. Menangis, dan hal-hal lainnya seperti berpakaian bahkan buang air.
Hingga aku memilih pergi melanjutkan pendidikan ke luar tanahku, Nek Tu masih begitu. Aku tak akan pernah menganggapnya aneh. Karena bagaimanapun ia, Nek Tu adalah seseorang yang akan selalu membuatku bangga karena memilikinya.
***
Malam ini purnama lagi. Yang kesepuluh semenjak aku pergi meninggalkan tanahku. Kerinduan menyeruak memenuhi udara di sekitarku. Aku rindu Bunda, Ayah, semuanya. Dan pastinya, aku juga rindu pada Nek Tu.
Tadi sore aku menghubungi Bunda. Kata Bunda, Nek Tu mu baik-baik saja, nak. Nek Tu juga pasti merindukanmu. Percayalah.
Bagaimana aku bisa percaya, Bunda? Aku bahkan tak yakin Nek Tu masih mengingatku. Ah, tapi bagaimanapun, aku begitu mencintainya. Ya, aku mencintai Nek Tu dan segala hal tentangnya.
Nek Tu, saat aku pulang, aku akan datang untuk mencium tanganmu. Dan engkau harus percaya satu hal, Nek Tu. Bahwa Allah begitu mengasihimu. Kematian itu pasti datang jika saatnya telah tiba, saat janjimu terpenuhi.
Titi Kuning, 26 Mei 2009
Note: 1. Rampagoe : alat untuk membelah pinang 2. Tamong : masuk 3. Jeut keudroe : bisa sendiri 4. Pakon : Kenapa 5. Hana mungken : tidak mungkin 6. Soe gata, Nyak? Supo aneuk?Pat tinggai? : siapa kamu, nak? Anak siapa? Tinggal di mana?
*Cerpen saya yang pernah dimuat di Harian Aceh tahun 2009
Based on true story. Sekarang Nek Tu telah tiada. Dia telah pergi menemui Rabb Nya pada Zulhijjah 1430 H




